Minggu, 19 April 2026

Helen's

Something haunts me... an old thought about the night before everything changes.
I wish I never had it. The memories still playin on my mind like tangled thread. Never ending playback. It's hurt to remember that feeling.

Seeing you for another time just make it worst than ever. Seems like I owe you - or - you owe me an apology?.

We are so fake to be seen.

We're just the top talent in Hollywood Drama's Industry, yet people rooting our name like A list celebrity on Coachella. I'm so embarrassed. I wish I could 'undo' that moment. It was not me after all. 

Another uncontrollable fear kinda season I think.

Jumat, 05 September 2025

Veranda

I saw the Unsee.
The truth that you never dream of.
The truth that never spoke.
E-v-e-r-ybody is liar.

Starting with a pure tears.
Becoming the worst nightmare.
It hunts us, or me actually.
Because you did it brutally.

Why pretending to be perfect?
While you are far from it.
Have you ever thought it?
When a lion crying in his rough life.

I saw the Unsee.
That you wouldn't be ready to hear.
It seems so near.
So prepare your ear.

Happier

Tangan kecil itu terus menarikku, langkahnya penuh semangat atas kehendaknya yang belum bisa dia utarakan. Senyumnya lebar selebar rasa sabarnya. Wajah tanpa dosa ini terus menatapku bagaikan dunianya, padahal duniaku sendiri sudah berantakan sejak bertahun-tahun yang lalu. Aku kembali mengikutinya, mengikuti segala inginnya, mengitari labirin yang hanya dia yang mengetahui jawabannya.

Apa kalian paham rasa bangga bercampur kecewa?

Seperti sesuatu sajak yang tak bisa ku artikan. Bait demi bait indah yang tidak terbaca, hanya kalimat tanya di akhir yang mampu ku cerna. Jangan lelah untuk dia.

Kan kuhadapi semuanya sendiri, karna seingatku saat aku kelas tiga SMP pun aku mengambil rapotku sendiri. Padahal kala itu aku juara ke-3 Ujian Nasional di kelasku. Jika diingat, mungkin seperti pertanda lama bahwa aku tidak harus merayakan segalanya.

---

Jika berbicara tentang sekolah jujur rasanya belum siap.
Karna akupun tak pernah jadi bagian dari itu.
Aku tidak sibuk mempersiapkan seragam untuk anakku, aku tidak sibuk mengurus bekal dengan bentuk bintang untuk anakku, aku juga tidak sibuk mencuci baju olahraga atau menemaninya mengerjakan PR di malam hari.

Topik yang berusaha aku tidak dengar saat teman sebayaku memikirkan jalan cerita panjang pendidikan anakknya kelak. Kerasku berusaha, mungkin ini memang belum giliranku.

Berbicara dengan orang 'sesama-ku' mungkin membantu, mendengar prespektif lain tentang pendidikan anak versi 'kami'. Namun menyaksikan kenyataan bahwa aku belum bisa semaksimal itu juga cukup menyedihkan. I wish I could. I wish I could help him...

---

Maybe in another life

I could sent him to the best School

I could pick him after his boxing practice

I could gave him the best lunch box every day

I could write a question for him to answer

I could spent the night talking about his future dream

I could teach him how to speak in English

I could teach him how to play drum

I could help him to choose what the best subject to be focused

I could fly away with him to Japan while his School Break

I could make him happier than today.....

---

Maka jika obatnya adalah bertukar jiwa, aku rela.
Jadilah dia hebat. Berlari kencang mengejar citanya. Menemukan cinta terbaiknya. Menjadi garda terdepan untuk keluarganya. Meninggalkan hal baik di dunia untuk akhiratnya. Serta.... melanjutkan mimpiku untuk menjadi Bahagia.

Senin, 01 September 2025

Narasi Demonstrasi

Sebuah fenomena nyata dimana ketidakadilan merajalela. Ada sosok si miskin dan si kaya, adapula sosok yang berada diatas bahtera sejahteranya, adapula yang masih memungut puing luka yang berhamburan. Perbedaan membuat sebuah standar yang sulit untuk kuterima. 

Mungkin saat ini, aku bak orang yang memegang papan besar meneriakan kesejahteraan yang sayangnya tulisan itu takan pernah bisa terbaca oleh mereka yang buta, selayaknya mereka membuat orang tak melihat kisah yang sebenarnya terjadi. 

Aku menangis tanpa bantuan gas air mata.

Aku terlindas, oleh kendaraan yang berjalan dengan bahan bakar ilusi semu yang mereka berikan.

Aku korban yang tidak akan pernah bisa media umumkan. 

Padahal inginku sederhana, bahkan Narasi Demonstrasiku hanya 3 kata.

Aku Ingin Bahagia.

------------------ dan jika aku tak bisa, bukankah seharusnya mereka juga?

Bolehkah aku menjarah beberapa lembar bajumu? bolehkah aku menjarah pajangan klasik yang ada di rumahmu? atau... bolehkah aku menjarah sebatang coklat yang ada di kulkasmu? Oh, bagaimana kalau aku menjarah sebagian waktumu?

Untuk menemaniku sekedar pergi ke dokter Gigi.

Untuk menemaniku sekedar mencari baju anak yang mulai kekecilan.

Untuk menemaniku sekedar membuka toko kue seperti citaku.

Untuk menemaniku sekedar menghadiri wisudaku.

atau...untuk sekedar menemaniku membeli sarapan makanan tradisional kesukaanku, bubur jenang di rumah makan khas Jogja.

--- Takan parnah mereka bisa menyanggupi, mengambil bahkan sebutir nasi dari piring makannya. Sesungguhnya mereka semua kelaparan, mereka rakus. Sibuk mengisi perut yang padahal sudah penuh.

Entah apa hukuman terberat untuk mereka yang seperti itu. Mungkin seumur hidup? 


Jumat, 01 Agustus 2025

Tak-kan memiliki cukup


August slipped away into a moment in time'Cause it was never mine

Sapaan hangat khasnya memanggil pelan sayup namaku. Samar ku dengar sebuah kisah pahit yang terus berulang, persis seperti jam yang tidak pernah berhenti. Ternyata duniaku memang sudah berantakan sejak Agustus entah beberapa tahun yang lalu.

Sebuah sebab akibat yang hadir tanpa pernah berkata pamit. Akupun menyerahkan diri begitu pasrah terhadap situasi yang mengendalikan ku. Jari jemari itu memang piawai menarik tali yang terhubung dikedua pergelangan tanganku. Tak bisa ku bergerak, hanya mempu mengikuti setiap tarian semu yang dihadirkannya.

AKU LELAH

Seperti teriakan nyaring yang tidak pernah ku dengar. Justru aku malah sibuk menangisi warna yang tak pernah kulihat diantara ribuan warna yang kumiliki berjejer rapi di lemariku.

Mungkin aku telah dibutakan, untuk berhenti melihat kebaikan. Mungkin pula aku hanya mampu mengartikan bahagia dalam ekspresi tangisan air mata yang seolah tak pernah habis. 

RAGA INI

Seolah rapuh tak mampu mengendalikan ketika sang ego mendominasi. Raga ini rasanya hancur, ketika menghadapi kenyataan dalam rangkaian kalimat penuh fakta pada koran yang terbit hari ini.

Ternyata aku bisa membacanya, namun hanya menolak untuk memahami.

MUNGKIN AKU

Yang selalu salah dalam memutuskan. Yang hanya melihat pantulan diri dalam cermin besar penuh goresan. Apakah memang ketika pecahan kaca yang terjatuh itu hanya bisa melukai siapapun yang berjalan diatasnya? Jawaban pasti.

TAK PERNAH PUAS. Tak-kan memiliki cukup.

Kamis, 03 Juli 2025

Rolling Action


Aku pernah melihat orang dalam versi terbaiknya. Seseorang yang bijaksana dengan pola pikir matang seolah siap menakhlukan dunia. Ketika orang tersebut berbicara, orang lain mengaguminya. Ketika orang tersebut mengemukakan pendapat, orang lain sepakat. Ya, tak ada yang bisa menampiknya.

Ada juga seseorang yang begitu aneh, membingungkan, seperti orang yang selalu tersesat.

atau...

Ada pula seseorang yang hidup sepertinya hanya menjalankan tugas yang diberikan, tanpa komentar ataupun sanggahan. Jadilah seperti yang terjadi.

Ternyata yang bijaksana itu belum tentu baik dalam menyusun kalimatnya. Bisa jadi juga, yang bijaksana nyatanya sedang membuat lobang besar dalam tapak demi tapak hidupnya. 

atau...

Bisa jadi yang tersesat justru ialah yang paling tau arah?
Bisa jadi dia mempersiapkan lebih matang agar tidak masuk kedalam jalan pintas yang nyatanya buntu?
Bisa jadi dia tidak dalam kebingungan, hanya sedang mengatur strategi besar dalam perjalanannya.

ah...

Lebih baik hidup hanya menjalankan peran yang diterima sajalah~

..." ucap seseorang dengan nada datar.

a...a... nyatanya orang itu selalu siap menghadapi gebrakan besar yang terus terjadi diharinya. Jika hidup hanya menjalankan peran, tentu takkan siap kita dengan dentuman-dentuman yang hadir diluar script.

Haha.. Kuakui memang orang-orang itu semua aktornya. Melakoni peran yang kontradiktif dalam setiap judul tayangan yang sedang diputar. Semua hebat, tapi tidak saat kamera tidak menyorotnya.

Sebentar ya... aku izin beli popcorn dulu :)

Halo Sang Pemenang

Kembali datang untuk menyakitiku. Apakabar mu? Tetap tertawa dalam masalah yang kau buat sendiri sepertinya memang ahlimu. Mungkin hingga detik ini bahkan kau tak sadari hujaman duri yang terus kau tebar kini semakin menodai.

Mungkin bagimu tak cukup rasanya membuatku menderita bertubi, nyatanya terus kau taburi garam dalam lukaku yang masih basah. 

1 tahun aku berdiam diri, mencoba mengartikan nasib yang kau coreng dengan jemari tanganmu sendiri. 1 tahun mungkin ku nanti matahari yang seakan berjanji untuk menerangi lagi. Nyatanya tak kudapat sinar itu, hanya api yang melahap habis kepercayaan ini.

Sepertinya menjadi dirimu begitu mudah.

Hanya perlu lari dan memenangkan marathon kehidupan penuh ambisimu. Naas, kau seret aku di dalamnya--- babak belurku hingga tak kuasa berdiri.

Jika hidupku adalah sebuah kompetisi, maka kau adalah kontestan yang paling kubenci.

Licik.

Munafik.

dan penuh Intrik.

Bahkan mungkin aku sudah menyerah jauh sebelum senapan angin meluapkan peluru nya. 

Nyatanya aku memang orang yang kau buat kalah. Menjalani hidup dengan sisa-sisa kerusakan fatal yang kau ulah. Kau cemari hatiku, perasaan hingga akal ku. Kau memang sejahat-jahatnya manusia.

Semua ini salahmu.

Kau menang pada pertandingan yang hanya kau dan egomu lakukan. Ya, kau juara 1 dan egomu setelahnya. Kau yang mendapat hadiah terbaiknya, yaitu penyesalan seumur hidup.

Selamat menuai bahagiamu dalam bentuk lara.
Selamat menerima mendali yang pasti akan mencekik dirimu perlahan. Aku yakin, kali ini tak akan ada yang mampu membantu.
Selamat pula atas garis finish yang kau tempuh, lucunya kau merasa menyelesaikannya padahal 1/4 lapangan pun belum sempat kau kitari.

Tentu aku tidak akan diam, kan ku kejar warasku tanpa kuindahkan setitik pun tatihmu nantinya. Halo sang pemenang, percayalah hidupmu takkan tenang.

Selasa, 11 Maret 2025

Perayaan Mati Rasa

 “Selamat atas kesuksesanmu, menerbitkan noktah baru dalam hidupku, lahir seperti perayaan mati rasa”

Sebuah tatap kosong memandangku dari pantulan cermin. Wajah manisnya tidak bisa membohongi fana nya dunia yang telah habis melahapnya. Dia tidak ketakutan, namun dia tak mampu bergerak banyak. Dia tidak lari, namun dia sebenarnya gelisah. Dia kebingungan, namun dia juga yang memberikan simpul panjang dalam rangkaian tali-temali pengikat lehernya.

Dia tertawa…atas segala ucapan yang bahkan dia tidak dengarkan. Dia menangis…atas segala kebahagiaan yang tidak dia rasakan.

Apakah Dia puas sudah begini?

Orang itu bahkan tidak bisa menjawab, jangankan itu, berbicara pun Dia terbata.

Sosok itu tak bisa ku kenali, entah siapa namanya, dari mana asalnya. Yang jelas Dia selalu menatapku dari pantulan cermin itu. Aku tidak bisa lari.