Tangan kecil itu terus menarikku, langkahnya penuh semangat atas kehendaknya yang belum bisa dia utarakan. Senyumnya lebar selebar rasa sabarnya. Wajah tanpa dosa ini terus menatapku bagaikan dunianya, padahal duniaku sendiri sudah berantakan sejak bertahun-tahun yang lalu. Aku kembali mengikutinya, mengikuti segala inginnya, mengitari labirin yang hanya dia yang mengetahui jawabannya.
Apa kalian paham rasa bangga bercampur kecewa?
Seperti sesuatu sajak yang tak bisa ku artikan. Bait demi bait indah yang tidak terbaca, hanya kalimat tanya di akhir yang mampu ku cerna. Jangan lelah untuk dia.
Kan kuhadapi semuanya sendiri, karna seingatku saat aku kelas tiga SMP pun aku mengambil rapotku sendiri. Padahal kala itu aku juara ke-3 Ujian Nasional di kelasku. Jika diingat, mungkin seperti pertanda lama bahwa aku tidak harus merayakan segalanya.
---
Jika berbicara tentang sekolah jujur rasanya belum siap.
Karna akupun tak pernah jadi bagian dari itu.
Aku tidak sibuk mempersiapkan seragam untuk anakku, aku tidak sibuk mengurus bekal dengan bentuk bintang untuk anakku, aku juga tidak sibuk mencuci baju olahraga atau menemaninya mengerjakan PR di malam hari.
Topik yang berusaha aku tidak dengar saat teman sebayaku memikirkan jalan cerita panjang pendidikan anakknya kelak. Kerasku berusaha, mungkin ini memang belum giliranku.
Berbicara dengan orang 'sesama-ku' mungkin membantu, mendengar prespektif lain tentang pendidikan anak versi 'kami'. Namun menyaksikan kenyataan bahwa aku belum bisa semaksimal itu juga cukup menyedihkan. I wish I could. I wish I could help him...
---
Maybe in another life
I could sent him to the best School
I could pick him after his boxing practice
I could gave him the best lunch box every day
I could write a question for him to answer
I could spent the night talking about his future dream
I could teach him how to speak in English
I could teach him how to play drum
I could help him to choose what the best subject to be focused
I could fly away with him to Japan while his School Break
I could make him happier than today.....
---
Maka jika obatnya adalah bertukar jiwa, aku rela.
Jadilah dia hebat. Berlari kencang mengejar citanya. Menemukan cinta terbaiknya. Menjadi garda terdepan untuk keluarganya. Meninggalkan hal baik di dunia untuk akhiratnya. Serta.... melanjutkan mimpiku untuk menjadi Bahagia.
Hallo punol. Aku sudh lama fol IG mu, sejak sblum kau menikah. Aku sllu suka apa yg kau post. Kmudian, aku berhnti sejenak bermain IG beberapa tahun untuk fokus sekplahku. Skrg aku aktf kembali. Betapa aku terkejut dalam bbrp thun ini bnyk sekali yg kau alami. Aku tidak tahu skrg kau adalah seorang single mother karena yg kuingat dulu pernikahan mu adalah impian semua wanita termasuk aku. Semoga skrg kau jd lbih bahagia. Dan pling mmbuat ku terkejut adalah ttg Aufar. Baby ponakan onlne kt yg dulu imut dan skrg pun ttp imut, knpa kau tulis di instastorymu dia adalah anak ABK. Mohon maaf jika aku bertnya punol aku tidk mlihat ada appun yg berbeda dari Aufar.. Ada apa dg aufar punol. Skli lgi Maaf jika tulisanku membuatmu marah.
BalasHapus