Jumat, 05 September 2025

Veranda

I saw the Unsee.
The truth that you never dream of.
The truth that never spoke.
E-v-e-r-ybody is liar.

Starting with a pure tears.
Becoming the worst nightmare.
It hunts us, or me actually.
Because you did it brutally.

Why pretending to be perfect?
While you are far from it.
Have you ever thought it?
When a lion crying in his rough life.

I saw the Unsee.
That you wouldn't be ready to hear.
It seems so near.
So prepare your ear.

Happier

Tangan kecil itu terus menarikku, langkahnya penuh semangat atas kehendaknya yang belum bisa dia utarakan. Senyumnya lebar selebar rasa sabarnya. Wajah tanpa dosa ini terus menatapku bagaikan dunianya, padahal duniaku sendiri sudah berantakan sejak bertahun-tahun yang lalu. Aku kembali mengikutinya, mengikuti segala inginnya, mengitari labirin yang hanya dia yang mengetahui jawabannya.

Apa kalian paham rasa bangga bercampur kecewa?

Seperti sesuatu sajak yang tak bisa ku artikan. Bait demi bait indah yang tidak terbaca, hanya kalimat tanya di akhir yang mampu ku cerna. Jangan lelah untuk dia.

Kan kuhadapi semuanya sendiri, karna seingatku saat aku kelas tiga SMP pun aku mengambil rapotku sendiri. Padahal kala itu aku juara ke-3 Ujian Nasional di kelasku. Jika diingat, mungkin seperti pertanda lama bahwa aku tidak harus merayakan segalanya.

---

Jika berbicara tentang sekolah jujur rasanya belum siap.
Karna akupun tak pernah jadi bagian dari itu.
Aku tidak sibuk mempersiapkan seragam untuk anakku, aku tidak sibuk mengurus bekal dengan bentuk bintang untuk anakku, aku juga tidak sibuk mencuci baju olahraga atau menemaninya mengerjakan PR di malam hari.

Topik yang berusaha aku tidak dengar saat teman sebayaku memikirkan jalan cerita panjang pendidikan anakknya kelak. Kerasku berusaha, mungkin ini memang belum giliranku.

Berbicara dengan orang 'sesama-ku' mungkin membantu, mendengar prespektif lain tentang pendidikan anak versi 'kami'. Namun menyaksikan kenyataan bahwa aku belum bisa semaksimal itu juga cukup menyedihkan. I wish I could. I wish I could help him...

---

Maybe in another life

I could sent him to the best School

I could pick him after his boxing practice

I could gave him the best lunch box every day

I could write a question for him to answer

I could spent the night talking about his future dream

I could teach him how to speak in English

I could teach him how to play drum

I could help him to choose what the best subject to be focused

I could fly away with him to Japan while his School Break

I could make him happier than today.....

---

Maka jika obatnya adalah bertukar jiwa, aku rela.
Jadilah dia hebat. Berlari kencang mengejar citanya. Menemukan cinta terbaiknya. Menjadi garda terdepan untuk keluarganya. Meninggalkan hal baik di dunia untuk akhiratnya. Serta.... melanjutkan mimpiku untuk menjadi Bahagia.

Senin, 01 September 2025

Narasi Demonstrasi

Sebuah fenomena nyata dimana ketidakadilan merajalela. Ada sosok si miskin dan si kaya, adapula sosok yang berada diatas bahtera sejahteranya, adapula yang masih memungut puing luka yang berhamburan. Perbedaan membuat sebuah standar yang sulit untuk kuterima. 

Mungkin saat ini, aku bak orang yang memegang papan besar meneriakan kesejahteraan yang sayangnya tulisan itu takan pernah bisa terbaca oleh mereka yang buta, selayaknya mereka membuat orang tak melihat kisah yang sebenarnya terjadi. 

Aku menangis tanpa bantuan gas air mata.

Aku terlindas, oleh kendaraan yang berjalan dengan bahan bakar ilusi semu yang mereka berikan.

Aku korban yang tidak akan pernah bisa media umumkan. 

Padahal inginku sederhana, bahkan Narasi Demonstrasiku hanya 3 kata.

Aku Ingin Bahagia.

------------------ dan jika aku tak bisa, bukankah seharusnya mereka juga?

Bolehkah aku menjarah beberapa lembar bajumu? bolehkah aku menjarah pajangan klasik yang ada di rumahmu? atau... bolehkah aku menjarah sebatang coklat yang ada di kulkasmu? Oh, bagaimana kalau aku menjarah sebagian waktumu?

Untuk menemaniku sekedar pergi ke dokter Gigi.

Untuk menemaniku sekedar mencari baju anak yang mulai kekecilan.

Untuk menemaniku sekedar membuka toko kue seperti citaku.

Untuk menemaniku sekedar menghadiri wisudaku.

atau...untuk sekedar menemaniku membeli sarapan makanan tradisional kesukaanku, bubur jenang di rumah makan khas Jogja.

--- Takan parnah mereka bisa menyanggupi, mengambil bahkan sebutir nasi dari piring makannya. Sesungguhnya mereka semua kelaparan, mereka rakus. Sibuk mengisi perut yang padahal sudah penuh.

Entah apa hukuman terberat untuk mereka yang seperti itu. Mungkin seumur hidup?