Kamis, 03 Juli 2025

Rolling Action


Aku pernah melihat orang dalam versi terbaiknya. Seseorang yang bijaksana dengan pola pikir matang seolah siap menakhlukan dunia. Ketika orang tersebut berbicara, orang lain mengaguminya. Ketika orang tersebut mengemukakan pendapat, orang lain sepakat. Ya, tak ada yang bisa menampiknya.

Ada juga seseorang yang begitu aneh, membingungkan, seperti orang yang selalu tersesat.

atau...

Ada pula seseorang yang hidup sepertinya hanya menjalankan tugas yang diberikan, tanpa komentar ataupun sanggahan. Jadilah seperti yang terjadi.

Ternyata yang bijaksana itu belum tentu baik dalam menyusun kalimatnya. Bisa jadi juga, yang bijaksana nyatanya sedang membuat lobang besar dalam tapak demi tapak hidupnya. 

atau...

Bisa jadi yang tersesat justru ialah yang paling tau arah?
Bisa jadi dia mempersiapkan lebih matang agar tidak masuk kedalam jalan pintas yang nyatanya buntu?
Bisa jadi dia tidak dalam kebingungan, hanya sedang mengatur strategi besar dalam perjalanannya.

ah...

Lebih baik hidup hanya menjalankan peran yang diterima sajalah~

..." ucap seseorang dengan nada datar.

a...a... nyatanya orang itu selalu siap menghadapi gebrakan besar yang terus terjadi diharinya. Jika hidup hanya menjalankan peran, tentu takkan siap kita dengan dentuman-dentuman yang hadir diluar script.

Haha.. Kuakui memang orang-orang itu semua aktornya. Melakoni peran yang kontradiktif dalam setiap judul tayangan yang sedang diputar. Semua hebat, tapi tidak saat kamera tidak menyorotnya.

Sebentar ya... aku izin beli popcorn dulu :)

Halo Sang Pemenang

Kembali datang untuk menyakitiku. Apakabar mu? Tetap tertawa dalam masalah yang kau buat sendiri sepertinya memang ahlimu. Mungkin hingga detik ini bahkan kau tak sadari hujaman duri yang terus kau tebar kini semakin menodai.

Mungkin bagimu tak cukup rasanya membuatku menderita bertubi, nyatanya terus kau taburi garam dalam lukaku yang masih basah. 

1 tahun aku berdiam diri, mencoba mengartikan nasib yang kau coreng dengan jemari tanganmu sendiri. 1 tahun mungkin ku nanti matahari yang seakan berjanji untuk menerangi lagi. Nyatanya tak kudapat sinar itu, hanya api yang melahap habis kepercayaan ini.

Sepertinya menjadi dirimu begitu mudah.

Hanya perlu lari dan memenangkan marathon kehidupan penuh ambisimu. Naas, kau seret aku di dalamnya--- babak belurku hingga tak kuasa berdiri.

Jika hidupku adalah sebuah kompetisi, maka kau adalah kontestan yang paling kubenci.

Licik.

Munafik.

dan penuh Intrik.

Bahkan mungkin aku sudah menyerah jauh sebelum senapan angin meluapkan peluru nya. 

Nyatanya aku memang orang yang kau buat kalah. Menjalani hidup dengan sisa-sisa kerusakan fatal yang kau ulah. Kau cemari hatiku, perasaan hingga akal ku. Kau memang sejahat-jahatnya manusia.

Semua ini salahmu.

Kau menang pada pertandingan yang hanya kau dan egomu lakukan. Ya, kau juara 1 dan egomu setelahnya. Kau yang mendapat hadiah terbaiknya, yaitu penyesalan seumur hidup.

Selamat menuai bahagiamu dalam bentuk lara.
Selamat menerima mendali yang pasti akan mencekik dirimu perlahan. Aku yakin, kali ini tak akan ada yang mampu membantu.
Selamat pula atas garis finish yang kau tempuh, lucunya kau merasa menyelesaikannya padahal 1/4 lapangan pun belum sempat kau kitari.

Tentu aku tidak akan diam, kan ku kejar warasku tanpa kuindahkan setitik pun tatihmu nantinya. Halo sang pemenang, percayalah hidupmu takkan tenang.