Kembali datang untuk menyakitiku. Apakabar mu? Tetap tertawa dalam masalah yang kau buat sendiri sepertinya memang ahlimu. Mungkin hingga detik ini bahkan kau tak sadari hujaman duri yang terus kau tebar kini semakin menodai.
Mungkin bagimu tak cukup rasanya membuatku menderita bertubi, nyatanya terus kau taburi garam dalam lukaku yang masih basah.
1 tahun aku berdiam diri, mencoba mengartikan nasib yang kau coreng dengan jemari tanganmu sendiri. 1 tahun mungkin ku nanti matahari yang seakan berjanji untuk menerangi lagi. Nyatanya tak kudapat sinar itu, hanya api yang melahap habis kepercayaan ini.
Sepertinya menjadi dirimu begitu mudah.
Hanya perlu lari dan memenangkan marathon kehidupan penuh ambisimu. Naas, kau seret aku di dalamnya--- babak belurku hingga tak kuasa berdiri.
Jika hidupku adalah sebuah kompetisi, maka kau adalah kontestan yang paling kubenci.
Licik.
Munafik.
dan penuh Intrik.
Bahkan mungkin aku sudah menyerah jauh sebelum senapan angin meluapkan peluru nya.
Nyatanya aku memang orang yang kau buat kalah. Menjalani hidup dengan sisa-sisa kerusakan fatal yang kau ulah. Kau cemari hatiku, perasaan hingga akal ku. Kau memang sejahat-jahatnya manusia.
Semua ini salahmu.
Kau menang pada pertandingan yang hanya kau dan egomu lakukan. Ya, kau juara 1 dan egomu setelahnya. Kau yang mendapat hadiah terbaiknya, yaitu penyesalan seumur hidup.
Selamat menuai bahagiamu dalam bentuk lara.
Selamat menerima mendali yang pasti akan mencekik dirimu perlahan. Aku yakin, kali ini tak akan ada yang mampu membantu.
Selamat pula atas garis finish yang kau tempuh, lucunya kau merasa menyelesaikannya padahal 1/4 lapangan pun belum sempat kau kitari.
Tentu aku tidak akan diam, kan ku kejar warasku tanpa kuindahkan setitik pun tatihmu nantinya. Halo sang pemenang, percayalah hidupmu takkan tenang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar