Senin, 01 September 2025

Narasi Demonstrasi

Sebuah fenomena nyata dimana ketidakadilan merajalela. Ada sosok si miskin dan si kaya, adapula sosok yang berada diatas bahtera sejahteranya, adapula yang masih memungut puing luka yang berhamburan. Perbedaan membuat sebuah standar yang sulit untuk kuterima. 

Mungkin saat ini, aku bak orang yang memegang papan besar meneriakan kesejahteraan yang sayangnya tulisan itu takan pernah bisa terbaca oleh mereka yang buta, selayaknya mereka membuat orang tak melihat kisah yang sebenarnya terjadi. 

Aku menangis tanpa bantuan gas air mata.

Aku terlindas, oleh kendaraan yang berjalan dengan bahan bakar ilusi semu yang mereka berikan.

Aku korban yang tidak akan pernah bisa media umumkan. 

Padahal inginku sederhana, bahkan Narasi Demonstrasiku hanya 3 kata.

Aku Ingin Bahagia.

------------------ dan jika aku tak bisa, bukankah seharusnya mereka juga?

Bolehkah aku menjarah beberapa lembar bajumu? bolehkah aku menjarah pajangan klasik yang ada di rumahmu? atau... bolehkah aku menjarah sebatang coklat yang ada di kulkasmu? Oh, bagaimana kalau aku menjarah sebagian waktumu?

Untuk menemaniku sekedar pergi ke dokter Gigi.

Untuk menemaniku sekedar mencari baju anak yang mulai kekecilan.

Untuk menemaniku sekedar membuka toko kue seperti citaku.

Untuk menemaniku sekedar menghadiri wisudaku.

atau...untuk sekedar menemaniku membeli sarapan makanan tradisional kesukaanku, bubur jenang di rumah makan khas Jogja.

--- Takan parnah mereka bisa menyanggupi, mengambil bahkan sebutir nasi dari piring makannya. Sesungguhnya mereka semua kelaparan, mereka rakus. Sibuk mengisi perut yang padahal sudah penuh.

Entah apa hukuman terberat untuk mereka yang seperti itu. Mungkin seumur hidup? 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar