August slipped away into a moment in time'Cause it was never mine
Sapaan hangat khasnya memanggil pelan sayup namaku. Samar ku dengar sebuah kisah pahit yang terus berulang, persis seperti jam yang tidak pernah berhenti. Ternyata duniaku memang sudah berantakan sejak Agustus entah beberapa tahun yang lalu.
Sebuah sebab akibat yang hadir tanpa pernah berkata pamit. Akupun menyerahkan diri begitu pasrah terhadap situasi yang mengendalikan ku. Jari jemari itu memang piawai menarik tali yang terhubung dikedua pergelangan tanganku. Tak bisa ku bergerak, hanya mempu mengikuti setiap tarian semu yang dihadirkannya.
AKU LELAH
Seperti teriakan nyaring yang tidak pernah ku dengar. Justru aku malah sibuk menangisi warna yang tak pernah kulihat diantara ribuan warna yang kumiliki berjejer rapi di lemariku.
Mungkin aku telah dibutakan, untuk berhenti melihat kebaikan. Mungkin pula aku hanya mampu mengartikan bahagia dalam ekspresi tangisan air mata yang seolah tak pernah habis.
RAGA INI
Seolah rapuh tak mampu mengendalikan ketika sang ego mendominasi. Raga ini rasanya hancur, ketika menghadapi kenyataan dalam rangkaian kalimat penuh fakta pada koran yang terbit hari ini.
Ternyata aku bisa membacanya, namun hanya menolak untuk memahami.
MUNGKIN AKU
Yang selalu salah dalam memutuskan. Yang hanya melihat pantulan diri dalam cermin besar penuh goresan. Apakah memang ketika pecahan kaca yang terjatuh itu hanya bisa melukai siapapun yang berjalan diatasnya? Jawaban pasti.
TAK PERNAH PUAS. Tak-kan memiliki cukup.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar