Sabtu, 11 Januari 2025

Stoicism

"Stoikisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan cara untuk mencapai kebahagiaan dan ketenangan hidup. Stoikisme mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak bergantung pada faktor eksternal, melainkan pada bagaimana kita menyikapi dan meresponsnya".

Sebuah faham diatas mungkin sudah aku jalani selama ini, dimana aku tak bisa memilih dan bereaksi banyak tentang apa pilihan hidup yang datang. If people see me as dominant person, maybe it's totally wrong. What crash... crash... what sink and let it be sink...drowning in to the water. Bedanya mungkin aku tidak menjalani se ikhlas orang Yunani itu.

Sebenarnya mungkin aku juga tak mengerti apa kebahagiaan sejati itu?

Sekarang pertanyaan bergulir. Ibarat kata "kita tidak bergantung pada faktor eksternal, namun bagaimana kita menyikapi dan meresponnya?"........sebuah kalimat kontradiktif akhir yang membingungkan. Apa boleh dalam hal ini seorang "STOIK" lantang menyuarakan keinginannya selaras dengan merespon energy negatif dari eksternal?. Ataukah menjadi Stoik artinya kita harus menerima, merespon dengan lapang atau Vice Versa?

Hari itu aku mencoba, berinteraksi dengan Stoik yang halus mengutarakan keinginannya melalui boundaries yang ia bangun. Aku akui, kali ini bahkan walau tegas tapi tidak ada kalimat tuntutan dari mulutnya. Sepertinya.... orang Stoik faham betul cara untuk legowo merespon rejection yang khawatir ia dapati.

Sayangnya hari itu bukan saatnya. Aku menantang Stoik ini dengan kalimat yang luar biasa egoisnya. Kalimat gamblang yang sebenarnya aku sendiri pun terkejut saat mengutarakannya. Lalu bagaimana respon Stoik? apakah memang kebahagaiannya tidak dari faktor eksternal? Apakah hanya mengandalkan faham tersebut dia mampu menghandle emosinya? atau memang sejak awal ketika memutuskan untuk menjadi Stoik, orang-orang justru sudah mengubur dalam sesuatu dengan label "Emosi"?

Ini berputar di kepalaku. Mungkin jika di-analogikan, aku adalah Seorang Stoik (baru) yang tidak ikhlas, mudah menggerutu, terlalu banyak berfikir serta kritis. Hahaha ternyata aku tidak layak menyandang tittle ini. Terlalu berisik kepalaku untuk menampungnya.

Mungkin life begin at 40's?

atau mungkin aku sudah lama tidak hidup?

entah apapun kondisinya, yang pasti aku layak untuk memperjuangkan kebahagiaanku, kewarasanku, dengan cara terbaik dalam bentuk faham apapun....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar