Rabu, 06 November 2024

Luka

 


Sebagai seseorang yang hidup dengan banyak luka jahitan dan goresan takdir, mungkin satu-satunya yang bisa kulakukan dalam hidup adalah menerima.

Menerima keadaan kalau memang luka ini harus ku balut sendiri. Bahkan seseorang yang berjanji di depan Tuhan saja tak mampu untuk mengobatiku—pun konyolnya padahal dia yang merobek ragaku begitu dalam. Aku mengumpatnya dengan kalimat terendah, karna kamu memang sepengecut itu.

Sedang aku apa?

Hanya terus menerima.

Menerima bahwa aku memang harus berjalan sendiri diatas tumpukan beling ini. Ada yang bernama “Tuntutan”, ada yang bernama “Karir”, ada pula yang bernama “Anak Spesial”. 

Karna ada yang lahir tanpa “Tuntutan” besar, hingga bisa tumbuh kenyang menghabiskan seluruh isi piringnya atau mungkin… ada juga yang hidup mengabaikan itu semua. 

Ada yang berlari kencang mengejar karir dan sampai. Ada pula yang harus terseok dan sampai di akhir. Tapi ada juga yang abai seolah tak perduli..toh akan tetap sampai karna sudah disiapkan KAPAL PESIAR dari orang tua.

Terakhir… ada yang bahkan membuang anaknya. Titipan yang hidup dalam hidupnya.

Semua dari mereka diatas berada di sekitarku. Orang-orang yang jarang merasakan luka sehingga tidak sadar melukaiku begitu dalam. “Hei aku sakit, paham?”.

Aku melewati ini semua sendiri walau diperjalanan kadang aku melewati bunga, namun sayang hanya mekar dimusim-musim tertentu. Bunga itu baik, selalu berupaya memberikan warna—tapi kembali dia punya tamannya sendiri untuk dimekari. Kadang aku juga ditemani burung yang berjanji akan mengangkat beban hidupku dengan kemampuannya yang stabil terbang di atas langit. Nyatanya itu hanya burung pemakan bangkai yang perlahan juga menggerogoti lukaku untuk bertahan hidup.

Kenapa aku begitu terluka? Apakah tangan kananku justru tidak tau kalau diam-diam tangan kiriku sudah menusuk ragaku sendiri?. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar